K A P A N ?
Posted by Atika Musthav in JaketBiru on May 21, 2013
Sejak 2 semester terakhir ini (semester 7 dan 8) saya sering banget disodorin pertanyaan dengan kata tanya “kapan”. Mulai dari kapan sidang Tugas Akhir? Kapan lulus? Kapan balik ke Malang? sampai yang paling sensitif, “kapan nikah?”. yang terakhir itu yang paling runyam.
Bukan, yang ingin saya ceritakan bukan tentang nikah, tapi tentang yang sebelum-sebelumnya (pantang bicara nikah sebelum tugas akhir berakhir). Jadi ceritanya sudah hampir 4 bulanan ini saya mengerjakan tugas akhir yang sekaligus proyek dari beberapa dosen pembimbing saya. Mulai dari bulan Februari saya mencoba memahami proyek yang benar-benar baru dan menantang bagi saya. Saya tertarik sekali, proyek ini bukan hanya proyek untuk kepentingan pribadi, tapi juga demi kemaslahatan dan hajat hidup orang banyak (uwiiih… | tapi beneran looo). Selain itu saya juga tertarik untuk bergabung karena dosen yang terlibat adalah dosen-dosen yang baik hati dan pengertian (beneran, bukan ngemodus). Read the rest of this entry »
Catatan buat Atika
Posted by Atika Musthav in Little Note on May 16, 2013
Pernahkah kau merasa?
Sudah hampir 4 purnama Ning, sampean masih juga berlari di tempat yang sama. Kalau boleh kembali ke 5 atau 6 bulan yang lalu, sampean akan memilih untuk kembali bukan? Tapi belum juga ada ilmuwan yang menciptakan robot sakti semacam doraemon yang dengan lorong waktunya bisa membawa kita ke masa lalu dan masa depan. | Jadi memang ndak bisa kembali ke 4 atau 5 bulan yang lalu ya?
Sedetik ke depan itu misteri, dan sedetik yang lalu adalah masa yang tak lagi bisa kita replay. Sudah terlanjur, ndak perlu menyesal. Kalau sampean menyebut ini kegagalan, monggo. Hadapilah dengan gagah. Berpikir ulang untuk meneruskan tujuan yang sama sekali burem itu perlu. Melakukan sesuatu yang sama sekali tidak sampean cintai itu siksa. Mencoba mengenal namun tak kunjung mengerti itu beban. Tanya hati sampean Ning. Katakan apa yang harus sampean katakan, dia harus mendengar apa yang harus dia dengarkan.
Ning, berpikirlah jernih, sebelum hidup sampean terasa lebih hambar. Sebelum hati sampean mati rasa. Sebelum waktu lebih jauh meninggalkan sampean. Sebelum sampean menjadi lebih sendiri. Masih banyak yang harus sampean lakukan daripada hidup dalam hampanya ketidakpastian.
Kalaupun memang harus bertahan, cepatlah bergegas. Cobalah lebih mengerti apa yang sedang sampean hadapi. Buang segala keraguan. Setelah kesulitan yang sampean alami, pasti Tuhan memberi banyak jalan kemudahan, Ning…
Bocah Sekarang, Wakil Presiden. “not in relationship”
Posted by Atika Musthav in Catatan Kecil, JaketBiru on March 26, 2013
“Wakil Presiden Indonesia sekarang siapa Dek?”
“Soekarno Kaaaak!”
————
Seperti biasa, selasa malam adalah waktu saya belajar bersama adik-adik Sanggar Lengger, Stren Kali Jagir, Surabaya. Mbak Dina malam ini sementara absen, untungnya Dek Gagah yang baik itu malam ini dengan senang hati menemani saya. Kali ini saya datang lebih cepat dari mereka. Ruang berdinding bambu tanpa pintu itu masih gelap.
Sepuluh menit kemudian Vita datang bersama Vina dan Indah, dengan tangan kosong. Lalu Vita memulai aksi sebagai juru bicara,
Vita : Kak, hari ini yang belajar Cuma berdua. Yang lain nggak bisa datang..
Saya : Lho, kok berdua? Kalian kan bertiga.
Vita : Vina sebenernya lagi sakit. Indah ibunya yang sakit, jadi Indah mau nunggu ibunya.
Saya : Yaudah, nggak apa-apa. Vita masih mau belajar kan?
Vita : Mau sih kak, tapi kan nggak bawa buku.
Saya : Bukunya diambil aja. Tak tunggu kok. Mau dianter ta?
Vita : Kak, ndak usah belajar yaナ tebak-tebakan aja.
Saya : Mmmナ
Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan permintaan Vita. Ya, belajar itu tidak harus mempelajari buku pelajaran yang disodorkan sekolah. Dan setelah saya meng-iya-kan, ternyata Vina dan Indah masih bertahan di Sanggar, nggak jadi pulang (entahlah, Vina tetiba langsung sembuh, dan Indah nggak jadi nunggu mamanya yang katanya lagi sakit).
Dan cerdas cermat pun dimulai. Saya bertugas sebagai penanya, Dek Gagah sebagai tukang tulis skor, dan 3 adek kelas 5 SD itu sebagai peserta. Saya sengaja memilih bertanya tentang IPS, karena mereka sudah terlalu akrab dengan IPA, apalagi Matematika. Setelah menjawab beberapa pertanyaan dengan baik, tiba-tiba saya tergelitik saat adik-adik menjawab pertanyaan tentang presiden Indonesia.
Saya : mmmm,. Siapa nama Presiden ke-4 Indonesia?
Adek2 : SBY kaaak..
Saya : hm?
Adek2 : eh, bukan ya kak? Soeharto ya?
Saya : Ada yang bisa menyebutkan satu persatu presiden Indonesia mulai yang pertama sampai sekarang?
Adek2 : 1. Ir. Soekarno, 2. Megawati, eh bukan ya? Siapa ya? Oh,, Hatta ya?
Dan,,, akhirnya mereka menjawab dengan mengawur indah. Akhirnya mau nggak mau harus mau, saya menerangkan siapa saja presiden Indonesia. Sebelum bercerita tentang presiden ketiga, saya mencoba bertanya:
Saya : kalau presiden ketiga siapa?
Adek2 : SBY ya kak? | *eaaaaaa
Saya : Pak SBY itu kan Presiden Indonesia yang sekarang. Tak kasih petunjuk deh, Beliau bisa bikin pesawat terbang sendiri loo..
Adek2 : mmmナ Siapa sih Kak?
Saya : Inisialnya H.
Adek2 : siapa sih Kak?
Saya : Itu looo, yang ceritanya baru-baru ini di Filmkanナ *eeaaaaa
Adek2 : oalaaaahナ Ainun Habibi ya kak?
Saya : Pak Habibi, dekナ Nama lengkapnya pak Habibi siapa?
Adek2 : Habibi Ainun | *hmmmmナ. -____-
Cerita untuk presiden ke-4 dan ke-5 lumayan lancar, begitu juga dengan presiden ke-6. Tapi ceritanya jadi lain pas saya nanya siapa wakil presiden Indonesia saat ini.
Saya : siapa wakil presiden Indonesia saat ini?
Adek2 : siapa yaaa? *loadiiiing
Lalu Vita mengangkat tangan,
Vita : SOEKARNOOO | Saya mbatin se-mbatin-mbatinnya. *Duh Gusti, sudah sebegininya kah.
Saya : Lo Vit, Pak Soekarno itu sudah wafat.
Adek2 : Lo mbak, la siapa lo?
Saya : hayoo.. siapa hayo? Biasanya kan fotonya dipajang di kelas, ada foto Pak SBY, terus Garuda Pancasila, terus satunya siapa?
Adek2 : Oh iya Kak, orang yang fotonya pakai kacamata itu ya?
Saya : Iya, kadang fotonya ada yang pakai kacamata.
Adek2 : Siapa mbak ya namanya? Lupa mbak..| dan mereka kembali ngawur.
Pak Boediono, wakil presiden yang ganteng itu terlupakan. Padahal setiap hari fotonya selalu tersenyum pada bocah-bocah ini. Yasudahlah, ndak apa-apa. Sebagai warga negara yang baik, akhirnya saya ngasih tahu Adik-adik bahwa wapres ganteng berkacamata itu bernama Pak Boediono.
———
Selanjutnya pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan, dan beberapa jawaban sangat terdengar lugu.
Saya : nama lengkap Pak Karno siapa?
Adek2 : Soekarno Hatta mbaaak..
Saya : *hmmmm
Saya : Jenderalnya Inggris yang meninggal saat pertempuran 10 Nopember namanya siapa?
Adek2 : Bung Tomo Kaaak..
Adek2 lainnya : Jenderal Soedirman mbaak..
Saya : Bagaimana bunyi sila ke-3 pada pancasila?
Adek2 kembali mbulet, ngawurr, tewurrナ
———
Apa ya yang menyebabkan mereka jadi begitu? Seandainya saya sekarang masih kelas 5 SD, kira-kira saya seperti mereka nggak ya?
Yah, sepetinya bocah-bocah ini sudah tidak tertarik lagi mempelajari negara serempong ini, meskipun sekedar tahu nama presidennya dan mengenalnya lewat foto yang dipampang di kelas sekolahnya. Banyak yang lebih menarik, seperti kata Vita dengan Bahasa Inggrisnya yang lumayaaan, “My Idol is Cherribelle”. Dan setahu saya, mereka bisa menyanyikan lagunya Coboy Junior lebih fasih dari pada tadi waktu saya minta menyanyikan Indonesia Pusaka. Budaya populer memang selalu lebih populer daripada peninggalan nenek moyang.
Sumpek Cak! Lha jamane anakku sesuk iki piyeeee? | yang ini terlalu visioner.. heuheu
——–
Dan cerdas cermat diteruskan dengan beberapa pertanyaan Basa Jawa, Bahasa Inggris, dan Matematika (atas permintaan Indah, karena skornya jauh tertinggal).
——–
Lalu Siska, Nabilla, Rensa, Laura, dan Edo datang. Cerdas cermat berakhir. Yang baru datang minta ditemenin belajar untuk persiapan Ujian Sekolah.
catatan s(nye)pi
Posted by Atika Musthav in JaketBiru, Little Note on March 12, 2013
saat memutuskan untuk sedikit melangkah dari lingkaran sosial yang telah membesarkan seseorang, maka sedikit demi sedikit harus belajar untuk tidak dihiraukan dan tidak dipentingkan.
karena setiap orang harus punya area kapan harus sendiri dan kapan harus menikmati kebersamaan. tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, tidak semua masalah bisa diselesaikan bersama. manusiawi, biasa.
ketika seseorang terbiasa menyelesaikan masalah bersama-sama, maka belajar untuk mencicipi dan menangani masalah sendirian itu perlu.
tidak dihiraukan, tidak dipentingkan.
teguran atas kesombongan pada diri manusia. setiap orang bisa saja menganggap orang lain itu tidak penting, tidak berguna. ada dalam ketiadaan. agar setiap orang bisa tahu diri. agar terbiasa bahwa dihiraukan atau tidak, dan dipentingkan atau tidak, itu seharusnya tidak penting. terus belajar untuk menjadi manusia yang baik, menjadi lebih berguna bagi yang lain. memanusiakan manusia, dan dimanusiakan manusia.
melangkah.
tempat paling tidak aman adalah tempat yang paling nyaman. terbuai akan indahnya kebersamaan seringkali mengantar pada kejumudan, terhenti untuk belajar. terlalu asyik dengan komunitas sendiri hingga lupa bahwa dunia ini sangat luas. terbutakan hingga tak melihat dengan jeli keterpurukan dan penderitaan yang terinjak-injak oleh romantisme kebersamaan yang mapan, kesenjangan. tak bisa membaca banyak warna dan keberbedaan yang memang tidak harus diseragamkan. masih berpikir panjang untuk saling memahami dan belajar untuk tidak saling menjatuhkan.
konflik, benturan.
disengaja, tidak disengaja.
sebagian proses dari belajar. bagaimana kita berdialog dengan diri sendiri. membela nurani atau memenangkan ego. bagaimana mengendalikan, mengelola agitasi dan propaganda yang bersumber dari diri kita agar berjarak dengan kebohongan.
berproses, belajar, menebar dan menanam benih kebaikan.
*idealnya seperti itu. tidak idealnya? cermin datar mana cermin datar?
Cerita dari Sawah
Posted by Atika Musthav in other Life on January 16, 2013
Masih belum terlalu terik, pagi ini Ibuk mengajak saya ‘jalan-jalan’ ke sawah. Ya, rumah saya yang di pinggiran Kabupaten Malang ini dikaruniai hamparan sawah yang ijo royo-royo. Agenda kami pagi ini adalah ‘ngirim’ para pendekar sawah yang katanya Ibuk sedang ‘ngeroges’ tebu. Saya yang lahir di ndeso ini sebenarnya kurang paham dengan istilah-istilah pertanian (maklum, lama di kota
), tapi setelah nanya ke Ibuk, ternyata ngeroges itu membersihkan daun tebu.
Jarak dari rumah saya ke sawah milik keluarga sekitar 300meter. Pagi ini saya dan Ibuk memilih jalan kaki. Karena musim hujan, jalanan di sawah jadi becek (pake’ banget). Ingatan saya melayang ke masa kecil saya, nostalgia jaman sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah / SD yang Islami). Setiap pulang pergi ke sekolah saya lewat sawah. Membelah hijaunya padi, melintasi rerimbunan jagung dan padi, lewat di pematang sawah yang becek, licin, ah.. itu biasa. Jangankan ketemu tikus, ketemu ular saja sudah bukan hal yang WoW. Ya, itu masa kecil saya bersama teman-teman.
Jalanan yang becek itu membuat saya dan Ibuk asyik berhati-hati. Saya berjalan di belakang Ibuk sambil mengamati Ibuk saya, lalu mbathin: Ibuk saya ini lahir dan besar di Surabaya, sekarang sudah benar-benar jadi Bu Tani. Sudah profesional sekali ngurusi sawah mulai dari rencana menanam apa, cari tukang nanam, cari tukang air, ngurusi pas tahap pertumbuhan, masa panen, mau dijual ke mana. Ya, 31 tahun hidup bersama Abah merupakan waktu belajar yang sudah cukup panjang bagi Ibuk.
Dimensi Kualitas Software “Mc-Call”
Posted by Atika Musthav in Manajemen Kualitas TI on November 29, 2012
Penggolongan factor atau dimensi yang berpengaruh pada kualitas telah diusulkan oleh McCall dan kawan-kawan (Roger, 2002). Pada dasarnya titik berat dari faktor tersebut terbagi menjadi tiga aspek penting, yaitu:
- Product Operation
Merupakan sifat-sifat operasional dari perangkat lunak. Product Operation pada dimensi ini meliputi Correctness, Realibility, Efficiency, Integrity, usability.
- Product Revision
Dimensi ini berhubungan dengang kemampuan perangkat lunak dalam menjalani perubahan. Dimensi ini meliputi beberapa faktor yaitu maintenability, flexibility, dan testability.
- Product Transition
Dimensi ini membahas tentang daya adaptasi atau penyesuaian perangkat lunak yang dibuat dengan lingkungan baru. Dimensi ini mencakup beberapa faktor seperti portability, usability, dan interoperability.
Dimensi Kualitas Correctness
Dimensi Correctness (ketepatan) merupakan dimensi yang mengukur ketepatan fitur yang terdapat pada perangkat lunak terhadap pemenuhan kebutuhan yang telah dispesifikan dalam fase perencanaan.
Menurut Mc Call (tahun x) terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan pada pengujian menggunakan dimensi correctness, antara lain:
- Output Correctness
Kelengkapan, keakuratan, dankesesuaian antara output yang dihasilkan perangkat lunak dengan yang telah dispesifikasikan
- Documentation Correctness
Dimensi ketepatan dokumen ini dilihat dari segi kelengkapan dokumen, keakuratan dokumen, dan struktur dokumen. Format dokumentasi dalam bentuk hard copy dan soft copy. Dokumen yang disertakan meliputi user installastion, user manual, dan programmer manual.
- Coding Qualitification
Kepatuhan terhadap standart pembuatan kode pemrograman, khususnya mengenai kompleksitas kode.
Metode Blackbox Testing
Posted by Atika Musthav in Manajemen Kualitas TI on November 29, 2012
Pada siklus hidup pengembangan perangkat lunak (System Development Life Cycle: SDLC) salah satu suatu proses yang harus dilakukan adalah proses pengujian pengujian (testing). Pengujian perangkat lunak adalah suatu teknik yang digunakan menguji apakah sebuah perangkat lunak yang dihasilkan telah memenuhi kebutuhan proses bisnis pengguna atau masih belum. Menurut Pressman (2005), testing adalah proses eksekusi suatu program untuk menemukan kesalahan sebelum digunakan olejhpengguna akhir (end-user).
Salah satu metode pengujian perangkat lunak adalah Black-Box Testing. Black-box Testing merupakan sebuah metode yang digunakan untuk menemukan kesalahan dan mendemonstrasikan fungsional aplikasi saat dioperasikan, apakah input diterima dengan benar dan output yang dihasilkan telah sesuai dengan yang diharapkan. Read the rest of this entry »



